Pemimpin Masa Depan Sebagai Civil Society

sumber ilustrasi: http://news.unair.ac.id/2018/10/29/memaknai-gaung-sumpah-pemuda/



Pemuda masa kini pemimpin masa depan. “Beri saya sepuluh pemuda maka dapat kuguncangkan dunia”, itulah perkataan founding father Presiden pertama Indonesia Ir. Soekarno. Beliau memekikan betapa pentingnya peran pemuda dalam kemajuan bangsa dan negara. Bahkan, baik buruknya suatu negara dilihat dari kualitas pemudanya. Pasalnya, generasi muda adalah penerus sekaligus pewaris bangsa dan negara. Sehingga, generasi muda  perlu mempunyai karakter yang apik, stimulus nasionalisme, berjiwa saing dan sanggup memahami ilmu serta teknologi untuk bersaing secara global. Pemuda juga perlu memperhatikan bahwa mereka mempunyai misi sebagai agent of change, ethical force and social control agar tercipta manfaat bagi masyarakat.
Dalam peristiwa pergerakan dan perjuangan bangsa Indonesia, pemuda juga senantiasa mempunyai peran yang strategis. Seperti ketika memperjuangkan kemerdekaan dari penjajah Belanda dan Jepang sampai menjatuhkan rezim Soeharto (orde baru). Pemuda menjadi tulang punggung di setiap peralihan kepemimpinan yang tidak sesuai dengan permohonan rakyat. Pemuda juga bisa menjadi people make history (orang yang mengakibatkan sejarah) di tiap-tiap pergerakannya. Bahkan secara kualitatif, pemuda lebih kreatif, inovatif, punyai idealisme yang murni dan energi besar dalam pergantian sosial. Sementara secara kuantitatif, kurang lebih 30-40 persen dari penduduk Indonesia adalah pemuda.
Menengok sejarah, pemuda Indonesia juga akhirnya menemukan jati dirinya melalui sumpah pemuda pada 28 Oktober. Kemudian, hari itu dikenal sebagai Hari Sumpah Pemuda yang seharusnya menjadi refleksi bagi pemuda untuk memberi kontribusi besar dalam pembinaan pemuda masa kini. Sebab, pemuda di masa itu pun sudah ikut andil dalam kemajuan bangsa. Seperti pendirian organisasi-organisasi pemuda yakni Budi Utomo, Trikora Dharma, Jong Java dan lain-lain.
Namun, di masa sekarang ketika kondisi di sekitar pemuda dirasa aman, pemuda cenderung diam atau pasif. Bahkan mereka seolah tidak ada upaya untuk beranjak dari zona nyaman. Padahal baik dalam kondisi aman maupun tidak, pemuda dituntut lebih banyak bergerak. Salah satunya terus berupaya lebih produktif dan lebih kreatif terhadap ide-ide yang inovatif. Sayangnya, saya melihat kondisi pemuda masa kini di Indonesia mengalami degradasi moral, terlena dengan kesenangan dan lupa terhadap tanggung jawab sebagai pemuda. Bahkan tataran moral, sosial dan akademik pemuda tidak lagi menjadi umpama untuk keteladanan bagi masyarakat sebagai kaum terpelajar.
Mereka cenderung berorientasi pada hedonisme (berhura-hura), sehingga menurunkan kepekaan pada kondisi sosial masyarakat. Tidak hanya itu, dalam  urusan akademik pun mereka tidak paham bahwa insan akademis seharusnya sanggup memberikan efek besar untuk kemajuan bangsa. Hal tersebut disebabkan oleh pemuda Indonesia telah meninggalkan dan mengabaikan nilai-nilai Pancasila. Yang notabenya menjadi ideologi dan jati diri bangsa Indonesia. Sehingga, seolah-olah tidak lagi mewarisi semangat nasionalisme yang dimiliki pemuda pada zaman dulu. Di samping itu, arus teknologi yang tambah canggih juga membuat para pemuda kini lupa akan tugasnya. Yakni sebagai pemegang estafet pembangunan masa depan.
Hal lain yang memicu lunturnya semangat kebangsaan salah satunya adalah kejenuhan para pemuda di dalam melihat wacana kebangsaan yang di kumandangkan elite politik Indonesia. Sebab lainnya adalah tidak terdapatnya keyakinan dari golongan tua kepada golongan muda untuk mengadakan transfer ilmu, pengalaman dan kewenangan. Selain itu, tipe hidup kebarat-baratan juga merupakan pengaruh yang kini menyerang. Banyak dari generasi muda yang keblabasan seperti halnya melakukan aktivitas mabuk-mabukan, terlibat dunia malam dan masalah narkoba. Gaya hidup seperti inilah yang merusak generasi muda. Di lingkungan akademis seperti perguruan tinggi, mahasiswa sekarang juga lebih banyak menghabiskan waktu yang kurang jelas manfaatnya. Bahkan, forum diskusi sepi diisi perihal kenegaraan. Sebaliknya, tempat hiburan malah banyak dikunjungi oleh mahasiswa.
Jika generasi muda memilih tidak beranjak dari zona nyamannya, maka bisa jadi Indonesia akan terpuruk lagi. Dalam kondisi yang sama dengan masalah berbeda. Oleh karena itu, para generasi muda saat ini wajib menyikapi perubahan yang ada. Sebab, Indonesia juga memerlukan semangat para generasi muda. Sebagai sosok yang sanggup membangun negara Indonesia yang mandiri, bersatu dan damai. Meskipun dengan latar belakang yang berbeda. Saya yakin bahwa pemuda bisa lebih kreatif untuk melakukan pergerakan ketika kondisi di sekitarnya mengalami kerumitan. Atau sedang tersandung banyak masalah yang dihadapi dan tidak kunjung terselesaikan. Semangat itu bisa ditunjang dengan upaya berpikir rasional, demokratis dan kritis dalam menuntaskan segala masalah yang tersedia di negara kita. Mencintai tanah air dan sudi berkorban bagi bangsa Indonesia juga akan meminimalisir perpecahan ataupun perselisihan antar bangsa Indonesia.
Penulis : Anisa Kusuma Warnori
Editor  : Umi Uswatun Hasanah

No comments

Apa pendapat kamu mengenai artikel ini?

Powered by Blogger.