Kampus Bukan Panggung Stand Up, Stop Guyon Seksis!

 

Doc. Majalah Sunday


Kasus pelecehan seksual yang terjadi di FH UI dan ITB baru-baru ini kembali menampar kita dengan kenyataan pahit, kampus, yang seharusnya menjadi tempat aman untuk belajar dan berkembang, masih dipenuhi budaya pelecehan seksual. Yang lebih memprihatinkan, tindakan ini sering kali dibungkus dengan alasan “candaan”, “iseng”, atau bahkan dianggap sebagai bagian dari kebebasan berekspresi.

Namun, kita harus tegas, ini bukan soal apakah itu lucu atau tidak. Ini tentang martabat manusia.

Ketika ucapan atau perilaku melecehkan, ketika ada lagu atau konten yang merendahkan tubuh perempuan, itu bukan sekadar hiburan. Itu adalah objektifikasi. Itu adalah pelecehan. Ketika kita membiarkan hal seperti ini diterima, kita sedang menciptakan lingkungan yang tidak aman, terutama bagi perempuan.

Hidup perempuan bukanlah bahan lelucon. Perjuangan mereka adalah melawan ketidakadilan, melawan stereotip, dan melawan sistem yang sering kali tidak berpihak. Setiap perempuan berhak merasa aman, dihormati, dan diperlakukan dengan martabat yang sepantasnya. Bukan sebagai objek.

Sebagai mahasiswa, sudah sepantasnya kita tidak diam. Diam berarti kita memberi ruang bagi pelecehan untuk terus berlangsung.

Aspirasi perempuan adalah kenyataan yang tidak bisa diabaikan. Suara mereka bukan sekadar "emosi" atau "berlebihan". Itu adalah perlawanan terhadap pengalaman nyata yang sering kali terabaikan.

Saatnya kita bertanya
Apakah kita akan terus membiarkan pelecehan dianggap normal?
Ataukah kita akan menjadi bagian dari perubahan?

Peran kita jelas:

1. Bersuaralah ketika melihat ketidakadilan.
2.  Jangan tertawakan hal yang merendahkan.
3.  Dukung korban, jangan menghakimi atau meragukan.
4.  Bangun budaya kampus yang sehat, aman, dan saling menghormati.
5.  Mulailah dari diri kita sendiri dari cara kita berbicara, bercanda, dan bersikap.

Perubahan hanya akan terwujud jika kita semua bergerak. Ini bukan hanya soal satu kasus, ini tentang budaya. Dan budaya hanya bisa berubah jika kita semua ikut berperan.

STOP NORMALISASI PELECEHAN SEKSUAL!
HORMATI PEREMPUAN!
CIPTAKAN KAMPUS YANG AMAN UNTUK SEMUA!



Penulis: Frizka Nabila
Editor: Eri Stiowati 


Post a Comment

Apa pendapat kamu mengenai artikel ini?

Previous Post Next Post