Bait Pusaka


Ilustrasi Rizki Hidayatulloh

 Oleh: Iffah Sukmawati

Sabtu, pukul sebelas siang MI sudah membubarkan diri.
“Tapi aku takut ketahuan Mamak, ntar dimarahi.” Keluh Iffah
“Udah santai aja, kan kamu main ke sungai cuma mau cari ikan.” Novia memberi alibi.
“Iya nyesel lho ga ikut, nanti ikan hasil tangkapannya kita bakar.” Timpali Adit.
 
Menyusuri jalan setapak yang menjulur dari pintu gerbang belakang sekolah sampai di mulut jalan raya, Iffah mengendap-ngendap di kerumunan teman-temanya. Ia teramat takut jika aksi kali ini diketahui Mamak, meskipun itu seolah mustahil.
 Bising kendaraan menyambut mereka, hilir mudiknya menghentikan langkah untuk menyebrangi jalan beraspal. Jalanan lengang tinggal terik dari atas sana yang menari mesra bersama debu-debu kendaraan. Disepersekian detik saat semua siap menyebrang, nampak terlihat sebuah motor Vega-R dikemudikan sesosok lelaki paruh baya berkulit sawo kehitaman melintas. Raut wajahnya menyiratkan kelelahan, bau sate Pariaman menguar dari gerobak yang menumpang di belakang.
Iffah sekejap menahan nafas segera menyembunyikan tubuh kecilnya di balik kerumunan teman-teman. Seperenam menit motor itu sudah berlalu. “Tuhkan, ada Bapak!” Gerutu Iffah.

“Kan galiat, biarin.” Bujuk Novia.
“Iya, tapi…” Keluh nyater potong. Jantungnya masih berdetak anarkis.
“Ayo buruan!” Irul memberi aba-aba untuk menyebrang.

Matahari sudah meningglakan singgasananya di atas kepala sana, sekitar pukul satu siang. Iffah takut-takut melangkah masuk kerumah. Bocah berusia 12 tahun itu melongok dari pintu.“ Baru pulang Fah?” Sebuah suara menyapa.
Iffah hanya terkekeh, tapi hatinya gusar. Melihat air muka Mamak yang masam. Entahlah dia tahu atau tak, ada dua kemungkinan, ia tahu tapi marah dalam diam, kedua Mamak memang sama sekali tidak tahu itu artinya Bapak tidak melihatnya. 
  
Dugaan Iffah semakin kuat atas kemungkinan yang pertama, sebab sejak pulang sekolah tidak ada celoteh terlontar dari Mamak yang menyuruhnya makan atau mengganti baju seragam. Padahal hari itu Mamak memasak sayur Asem kesukaan, sangat disayangkan oleh Iffah. Hingga sore menjelang, wanita berkepala tiga itu masih pelit kata. Hanya berkata saat memerintah putri pertamanya mengangkati jemuran, mencuci piring, menyapu lantai dan halaman rumah. Hufftt, yang sedari tadi dilimpahi pekerjaan rumah bersungut-sungut, kesal. Jangan tanyakan hari-hari berikutnya, masih sama. Keinginanya Iffah untuk mondok sudah tersebar dikalangan keluarga.
 
“Ga usah mondok kejauhan!” Suara berat Pak de Kholis meyentaknya. Sebulir bening hampir jatuh dari pelupuk mata. Batinnya mengaduh, harus begitukah cara memberikan penolakan?
Si Nenekpun tak mau kalah, berkali-kali ia membujuk cucu kesayangannya untuk mengutarakan niat. Tapi Iffah masih bertekad kuat, tak goyah walau semili. 

Memang Iffah lah bintang kelas, rangking satu tak lepas dari genggamannya sejak kelas tiga MI. Tiap awal semester, setelah pembagian buku cetak  ia melibas habis semua soal di sana. Bahkan Matematika yang jadi musuhnya pun tak gentar sedikitpun si gadis bertekad baja itu menghadapinya.
Tapi sore itu, ia gentar ada persoalan yang tak mudah dipecahkannya. “Pokoknya kalau kamu ga juara satu UN Mamak engga akan nyekolahin kamu apalagi mondokin kamu jauh-jauh ke Jawa!” Mamak menegaskan. Diakhir percakapan keduanya yang diwarnai perdebatan akibat persoalan menyapu yang kurang bersih menurut sang Mamak. Tapi kalimat barusan sudah telak menyentil selaksa tekadnya, menciptakan sedikit celah retakan di sana. Ahh! 
Mamak sekarang jadi mudah marah keluhnya. Iffah meyakini sang Mamak tak lah sungguhan mengucapkannya tapi tidak bisa pula ia menganggap remeh. Hingga batinnya bergulat, menerka-nerka apa gerangan kesalahan yang sudah diperbuat, gamang.

Surya sudah bersipa-siap lengser dari tahtanya di sumbu langit mengiringi gemeletek mesin Vega-R yang dikendarai Iffah. Sudah jadi hal wajar di lingkungannyaan aku sia sekolah dasar bisa mengemudikan kendaraan roda dua. Sungguh sebuah pelanggaran di muka umum jika begini kasusnya siapa yang disalahkan? Para orang tuakah? Tapi bukan tanpa alasan bapak mengajarinya mengendarai motor. Guna kelancaranya berangkat mengaji ke kompleks sebelah. Begitulah keadaan ekonomi yang pas-pasan anak dituntut untuk dapat mandiri.

Tangan basah berbau sabun colek yang berbaur aroma sisa-sisa minyak makanan itu dikecup ta’dzim. Di sudut dapur tanpa dinding bapak memanggang sate. Dengan girang si gadis kecil berbaju muslimah berpamitan. Segera menyalakan mesin motor kemudian menarik gas, menuju TPQ.
“Jadi ketika kita mau mencari ilmu sampai meninggalkan tanah kelahiran masing-masing. Maka kita akan mendapatkan lima faedah diantaranya: dihilangkan kesulitan di dalam hidup, bertambahnya rezeki, meluasnya ilmu, memperbaiki akhlak dan bertemu dengan teman-teman yang mulia karena berilmu.” Jelas uztadz Nanang dengan semangat membara.
“ Keterangan tersebut dari bait ke?”
“35!” Serentak seluruh santri TPQ menyahut.
“Dari kitab Alala.”Dengan penuhs emangat para santri mengiringi ucapan uztadz Nanang.
“Ayo dibaca bareng nadzomnya!”Sang uztadz bertitah.
Tafaruju hammin waktisabi ma’isyatinwa ‘ilmin wa adabin wa sukhbati majidi.” 

Lantang suara para santri termasuk Iffah dengan amat sangat semangat melantunkan bait tersebut. Serasa ada yang kembali menyulut sumbu tekad membuat semangatnya membara lagi. Sekarang ia punya lima alasan untuk mondok di pulau seberang tidak hanya sebatas mengikuti jejak mba Nurul. Batinnya penuh kemenangan, jika ada yang berani membujuknya untuk mengurungkan niat ia sudah siap melontarkan lima jawaban pusaka tersebut. Gamang dihatinya tersisih. Andai kelopak matanya bisa tidak berkedip mungkin Iffah takkan mengedipkan kelopak matanya selama pelajaran berlangsung. Dengan khusyuk memperhatikan sang guru menjelaskan. Tapi ucapan Mamak beberapa waktu lalu menyentil konsentrasinya. Kenapa Mamak ngomong seperti itu? Apa kesalahanku? Apakah Mamak kesaldenganku? Pertanyan berduyun-duyun membukit di benaknya. Semenjak bait pusaka itu bersemayam dalam hatinya, bukan hanya semangat belajarnya yang melejit. Perlahan sikap yang sedari dulu jadi bahan omelan sang Mamak berangsur hilang. Bukankah tekad itu tidak hanya ucapan belaka? Iffah beragumen dalam monolognya setiap kali bait Alala itu muncul di pelupuk mata. Langkah awal, ia merubah apapun tentang dirinya yang membuat keluarga tak percaya akan keinginannya. Saat siang tak perlu diteriaki dua kali oleh Mamak Iffah segera menyudahi kegiatan bermainnya dan bergegas tidur siang. Sorepun begitu bergegas mandi lalu shalat asar tak lupa tadarus Al-Qur’an minimal satu halaman, ia sudah membangun keistiqomahan itu sejak kelas lima MI. Membantu Mamak dalam segala bentuk pekerjaan rumah yang ia bisa. 

UN usai, penolakan-penolakan atas niatnya sudah mulai mereda. Mamakpun tak lagi mengungkit ucapanya waktu itu. Begitu pula dengan sikap Mamak yang belakangan ini meresahkan Iffah.

“Ayo Fah kepasar.” Ajak Mamak.
“Tumben.” Batin Iffah, sembari bergegas menyelesaikan sarapannya.
“Di pondok kan pakainya rok terus, rok mu gimana? Sudah cukup? Masa ga pengen beli yang baru?”
Manik mata si gadis kecil berkulit sawo matang itu berbinar.
“Asal kamu jadi anak penurut Mamak itu selalu senang hati memberi apa keinginanmu.” Jelas Mamak. Benar dugaan Iffah ancaman itu sebab kebengalannya selama ini.Tak sia-sia usaha yang telah dilakukanya selama ini, kini tinggal merajut asa di depan mata.
 
Bersambug…

1 comment:

Apa pendapat kamu mengenai artikel ini?

Powered by Blogger.