UKT Semester Gasal Akan Mendapatkan Keringanan, Ini Penjelasannya


Rektor IAIN Purwokerto gelar audiensi terkait polemik UKT dan Subsidi Kuota di IAIN Purwokerto, Selasa (16/6/2020) (Dok : LPM Saka)

LPM Saka, PURWOKERTO – Biaya pendidikan Uang Kuliah Tunggal (UKT) di IAIN Purwokerto pada semester gasal Tahun Ajaran 2020/2021 akan mendapat keringanan sebesar 10 persen dengan syarat dan melalui tahapan seleksi.

Hal itu disampaikan Rektor IAIN Purwokerto bersama jajarannya yang menggelar audiensi terbatas dan dihadiri Lembaga Kemahasiswaan, Selasa (16/6/2020). Kebijakan tersebut mengacu pada Keputusan Menteri Agama (KMA)  nomor 515 tahun 2020 terkait ketentuan penurunan UKT bagi mahasiswa Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negri (PTKIN).

“Kebutuhan akan kuota tidak hanya menjadi persoalan mahasiswa tapi juga dosen,” ungkap Rektor IAIN Purwokerto, Moh. Roqib.

Tarik Ulur Penurunan Biaya UKT Semester Gasal

Wakil Rektor 2 IAIN Purwokerto, H. Ridwan menjelaskan skema keuangan UKT yang sempat tarik ulur dari Kemenag. “Formulasi bantuan UKT ataupun yang sejenisnya sesungguhnya bukan pada persoalan penolakan atau ketidaksetujuan terhadap bantuan, tetapi lebih didasarkan pada pencarian formulasinya.” jelasnya.

Lebih lanjut beliau menerangkan mengenai adanya syarat dan ketentuan penerima keringaan UKT. “Keringanan diberikan kepada mahasiswa yang mengajukan, permohonan itu harus dilampirkan bukti kelengkapan yang sah terkait kondisi keuangan orang tua. Hal tersebut mengacu kepada KMA yang menjadi rujukan utama bagaimana menentukan prosedur dan seleksi keringanan UKT,” tuturnya.

Skenario Kenormalan Baru di Lingkup IAIN Purwokerto

Wakil Rektor 1 IAIN Purwokerto, Fauzi menuturkan bahwa Kuliah daring sebagai satu komitmen perkuliahan di semester gasal menjadi fokus utama bahasan dalam setiap forum. “Kuliah di semester gasal besok, diserahkan mekanisme dan protokolnya kepada masing-masing PTKIN sesuai dengan kondisi dan lokalitas masing-masing dengan spirit new normal serta keselamatan dan kesehatan,”.terangnya.

Ia menambahkan, konsep perkuliahan new normal adalah dinamis. Dalam skenario pembelajaran membangun kultur dan berdampingan dengan kebijakan pesantrenisasi, maka untuk semester 1 adalah dengan metode brandit, artinya ada yang daring ada yang luring secara bergiliran. Dengan ini harapannya mahasiswa sudah bisa ke pesantren, sebab di pesantren sudah terdapat protokol, sementara itu untuk semester 3,5 dst secara daring,” imbuhnya.

Dalam kesempatan tersebut dijelaskan, skenario selanjutnya adalah konsep mengenai wisuda. Wisuda akan dirancang pula dengan konsep brandit, dimana sebagian kecil datang mewakili prodi.

Diketahui, ada 27 prodi yang akan diwakilkan masing-masing satu atau dua. Kemudian untuk senat juga perwakilan dan tidak diperkenankan adanya pendamping. Sedangkan mahasiswa yang melaksanakan wisuda dirumah dalam konsep ini tidak memakai toga melainkan memakai peci dan jas. Wisuda tahun ini sudah diputuskan akan dilaksanakan pada tanggal 15 Juli mendatang.

Akses Internet Perkuliahan Daring

Ketua TIPD IAIN Purwokerto, Fajar Handoyono menjelaskan akses internet gratis yang masih dalam proses pencanangan. Ada 3 provider internet seluler yang menawarkan CSR (Coorporate Social Responbility) yaitu Telkomsel, Indosat, dan  XL Axiata. Provider tersebut menawarkan bantuan akses internet gratis. 

Pihaknya mengaku telah berkoordinasi dengan salah satu Manajer yang menangani persoalan ini. Terdapat dua syarat agar mendapatkan akses internet tersebut diantaranya, Pertama, setiap kampus memilki kartu provider yang banyak, kuantitas ditentukan oleh pusat. Kedua, setiap kampus memilki moda pembelajaran yang kemudian di hosting di masing-masing server.

Dalam prosesnya beliau mendaftarkan 4 laman kampus pada 23 Maret 2020 kepada telkomsel dan 6 April 2020 kepada indosat.  Selain itu juga  mengadakan survei terkait moda pembelajaran yang digunakan oleh mahasiswa dan dosen IAIN Purwokerto. 

“Salah satu aspek yang dipertimbangkan berapa jumlah mahasiswa yang menggunakan kartu provider. Berdasarkan survei, yang menggunakan indosat ada 24% sementara yang Telkomsel itu hanya 11%, kemudian yang agak banyak Smartfren 21%, dan XL 13%. Barangkali asumsi saya karena jumlah pengguna kartu Telkomsel dan Indosat tidak sampai  50% sehingga sampai dengan akhir pembelajaran, keempat laman kita tidak diaktivasi oleh telkomsel dan indosat.” ujarnya.

Selanjutnya, protokol perkuliahan daring masih menunggu surat Keputusan dari Kementrian Agama Republik Indonesia. Rancangan sistem pelaksanaan perkuliahan akan ditinjau kembali atasa dasar aspirasi mahasiswa terkait perkuliahan daring.

Sementara itu, sebagai alternatif solusi dari model pembelajaran daring, pihak TIPD mengaku telah membuat skenario yaitu membuat video confers mandiri untuk menggantikan google meet dan zoom serta menyiapkan moda pembelajaran e-learning melalui IP laman kampus. Selain itu, pihaknya tetap akan berkomitmen untuk berusaha memfasilitasi  kemudahan perkuliahan daring.


Reporter : Nur Rohmah Sri Rezeki & Alvin Hidayat
Editor : Wahid Fahrur Annas



1 comment:

Apa pendapat kamu mengenai artikel ini?

Powered by Blogger.