Bayangan Gelap Instagram: Intai dan Rasuki Identitas Diri Gen Z

Sumber: Bing Image Creator

Semua orang di muka bumi mengalami kebingungan dan rasa itu akan hilang ketika mereka telah berada di surga. Pernyataan yang ditorehkan oleh Aldi Taher, rupanya bak tiada asap tanpa api. Rasa bingung yang melanda dan melahap individu tanpa pandang bulu. Terlebih pada Gen Z dengan usia jagung, banyak hal yang membuatnya merasa kebingungan terutama persoalan identitas diri. Sosok Psychosocial Development, Erik Erikson membenarkan perkara tersebut. Dalam prosesi pencarian jati diri tentu akan mendapati tahap “Identity confusion” dan dapat mencetak keyakinan atas jalan yang ia pilih, kepercayaan serta pandai dalam bersikap merupakan buah atas usaha yang ia tekuni dengan baik dan sesuai dalam takarannya. Namun, jika hal tersebut tidak berjalan dengan semestinya, tentu akan memiliki imbas yang selaras dengan yang ia lakukan.

Di era digital, kita banyak disuguhkan tawaran kemudahan dalam mengakses segala hal, tak terkecuali dalam proses pencarian jati diri. Instagram digadang-gadang sebagai tempat dalam mencari, menemukan dan mencetak proses di atas. Taylor Nelson Sofres (TNS) mencatat bahwa Instagram mayoritas digunakan oleh individu dengan rentang usia 18-24 tahun dan didominasi oleh perempuan. Besarnya rasa keingintahuan membuat Gen Z terlampau aktif dalam penggunaan Instagram di kehidupan sehari-hari. Intensitas individu dalam menggunakan Instagram 1-3 dalam setiap harinya, fitur-fitur yang mudah dikuasai menjadikan mereka betah berlama-lama.

Imbas Instagram terhadap identitas

Layaknya pisau bermata dua, dapat kita akui bahwa segala hal dalam lini kehidupan memiliki dua sisi. Meski apa yang terjadi memang tak selalu dapat kita kendalikan, akan tetapi kita mampu untuk meminimalisir resikonya. Dalam pembentukan identitas diri, eksistensi menjadi unsur utama pendukung. Dewasa ini, tolak ukur hal tersebut mayoritas ditentukan oleh Instagram. Seringkali ketidakmampuan dalam memenuhi ekspektasi terhadap eksistensi segera digolongkan pada buruknya identitas individu. Standaritas yang diyakini dalam dunia Instagram seperti memiliki banyak pengikut menandakan individu tersebut memiliki jejaring yang luas, jumlah fitur suka dan komentar dalam postingan yang banyak mengartikan betapa bagus personal individu.  Hal tersebut tentu saja memiliki dua insight dengan alasannya masing-masing, tak perlu risau ketika seseorang memandang positif perkara tersebut. Namun, mengkhawatirkan jika seseorang menganggap perkara fana dalam Instagram sebagai realitas sosial dan mengupayakan berbagai cara agar dapat memperoleh validitas.

Atas dampak standarisasi di atas, mereka berlomba-lomba menjadi Superstar di Instagram. Persetan dengan ciri khas, mereka tetap saja fokus meraup pengikut di Instagram. Memenuhi ekspektasi demi ekspektasi, terlebih ketika mendapat kalimat yang mengandung unsur pujian. Di usia yang belum cukup, seringkali sajian tersebut ditelan mentah-mentah layaknya individu kelaparan kemudian diberi seonggok makanan. Tanpa mereka sadari, kalimat yang dilontarkan tak sesempit pemaknaan merah berarti berani atau Singa berarti raja, tak sedikit terselip makna lain di dalamnya. Adapun adanya kalimat tersebut selain dimaknai sebagai pujian, seyogyanya mampu dijadikan evaluasi kedepannya. Mereka tak sepatutnya melambung tinggi layaknya tak akan jatuh.

Tak cukup sampai disitu, rupanya indikator lain lahir akan pernyataan di atas. Merubah bahkan kepalsuan ialah dampak yang hadir agar dapat memenuhi standarisasi eksistensi. Menggunakan efek yang saat selfie atau mengedit foto secara berlebihan merupakan satu dari sekian upaya yang ditempuh untuk memenuhi standarisasi. Hal tersebut memang hak setiap pengguna media sosial, namun ketika kita telisik lebih lanjut hal tersebut merupakan imbas dari pemenuhan standarisasi. Mereka merasa tidak percaya diri dengan kondisi yang dimiliki dan berbeda dengan ekspektasi pengguna Instagram.

Standarisasi tersirat yang telah disepakati warga Instagram juga kerap menimbulkan kriminalitas. Pemenuhan ekspektasi lainnya seperti mengikuti hal yang tengah trend, memaksa mereka berbuat melanggar aturan. Misalnya, agar dapat menciptakan foto yang menarik harus menggunakan perangkat yang memadai dan mengupayakan hal tersebut dengan mengambil diam-diam uang orang tua bahkan mencuri. Tentu ini menjadi sebuah PR yang harus diselesaikan dan dihilangkan keberadaannya. Selain melanggar norma, hal tersebut akan berimbas pada pola pikir, perilaku dan membentuk identitas diri.

Kontribusi Gen Z

Manusia yang tak luput dari masalah dapat terjebak dalam lubang-lubang yg seharusnya dapat dihindari. Individu dengan usia yang cukup dan telah melewati beberapa fase dalam kehidupan pun masih bisa rentan terdampak standarisasi di atas, lalu apa kabar dengan Gen Z?.

Beranjak dari imbas yang dituai oleh perilaku dan realitas yg diciptakan serta disepakati di Instagram, Gen Z sebagai salah satu pewaris bangsa sudah sepatutnya lebih peka, adaptif dan tangkas memahami serta menyelesaikan problematika di lingkungan sekitar. Untuk mengatasi problematika yang hadir atas masifnya penggunaan Instagram serta standarisasi tersirat, Gen Z dapat menumbuhkan dan meningkatkan kepercayaan diri dengan disesuaikan akan kebutuhan. Gen Z sepatutnya menyingkirkan ekspektasi yang disepakati dalam dunia fana. Gen Z juga perlu selektif dalam pemilihan konten dalam keberlangsungan peningkatan rasa percaya diri. Hal tersebut dapat diawali dengan mengapresiasi setiap progres yang telah dilalui baik untuk pribadi atau orang lain. Jika diperuntukkan kepada orang lain, sangat dianjurkan untuk menggunakan kalimat yang jelas dan tidak menimbulkan interpretasi. Selain itu, agar keseimbangan tetap terjaga perlunya melakukan evaluasi terhadap aktivitas yang telah kita lakukan di Instagram. Adapun pengembangan diri tentunya disesuaikan dengan kemampuan yang dimiliki oleh individu, ketika terlalu memaksakan dampaknya pun berimbas pada individu tersebut.

Penulis: Jasmine Azzahra

 

 

 

 


 

Post a Comment

Apa pendapat kamu mengenai artikel ini?

Previous Post Next Post