Komunikasi kepada publik sejatinya merupakan
proses menyampaikan informasi kepada masyarakat luas dengan tujuan untuk
mempengaruhi pendapat, sikap, atau perilaku mereka. Namun, banyak komunikasi
kepada publik yang gagal mencapai tujuannya karena tidak mempertimbangkan
faktor-faktor psikologis yang mempengaruhi perilaku manusia.
Sebuah organisasi kesehatan meluncurkan kampanye
anti-rokok dengan tujuan untuk mengurangi jumlah perokok di Indonesia. Kampanye
ini menggunakan iklan yang menampilkan gambar-gambar yang menakutkan tentang
efek merokok, seperti paru-paru yang rusak dan kanker. Namun, kampanye ini
tidak berhasil mengurangi jumlah perokok karena tidak mempertimbangkan
faktor-faktor psikologis yang mempengaruhi perilaku merokok.
Ada lagi lembaga pemerintah meluncurkan kampanye keselamatan lalu lintas dengan tujuan untuk mengurangi jumlah kecelakaan lalu lintas. Kampanye ini menggunakan iklan yang menampilkan gambar-gambar yang menghoror tentang kecelakaan lalu lintas, seperti mobil yang rusak dan korban jiwa. Namun, kampanye ini tidak berhasil mengurangi jumlah kecelakaan lalu lintas karena tidak mempertimbangkan faktor-faktor psikologis yang mempengaruhi perilaku pengemudi.
Satu analogi
paling sederhana untuk
menjelaskan mengapa publik
dengan cukup informasi masih gandrung dengan
teori konspirasi dan pengingkaran lainnya
terhadap penyebaran wabah ini adalah dengan fabel berikut. Alkisah ada
seekor rubah melihat seikat anggur yang tampak merah, harum dan matang masih
tergantung di pohonnya. Sayangnya anggur tersebut tergantung pada cabang
yang tinggi. Walau berulang kali Sang Rubah berusaha meraihnya, pada akhirnya
selalu gagal dan terjatuh ke tanah. Hingga pada suatu titik Sang Rubah berbalik
arah seraya berkata “Buat apa aku susah
susah menggapai Anggur itu, kalaupun aku mendapatkannya toh rasanya masam dan
tidak akan aku makan.”
Setidaknya dari cerita tersebut, terungkap beberapa fakta
penting. Yang pertama
adalah adanya sikap dan pengetahuan rubah yang tidak
selaras atau inkonsisten, antara pengetahuan – keinginan dengan perbuatan. Yang
kedua, Rubah berusaha menghindar atau melakukan pengingkaran dari informasi dan
pengetahuannya sendiri bahwa anggur itu telah matang dan enak dimakan, dan yang
ketiga rubah menambahkan keyakinan baru bahwa anggur tersebut paling hanya
anggur yang masam.
Selanjutnya, ada beberapa prinsip yang menjadi dasar argumentasi dalam melihat kejadian ini. Prinsip pertama adalah, bahwa akan ada perasaan tidak nyaman dalam diri seseorang ketika terdapat ketidaksesuaian antara prinsip dengan aksi yang dilakukannya. Prinsip ini memberikan asumsi, bahwa Sang Rubah sebenarnya memiliki perasaan tidak nyaman karena pengetahuan yang dimilikinya bertentangan dengan sikap yang dia lakukan. Pada kasus merokok, orang tahu resiko yang ditimbulkan dari aktivitas merokok, ketika dia berhenti merokok, pada hakikatnya orang tersebut menyelaraskan antara pengetahuan dengan sikap yang dia miliki, sehingga memiliki perasaan lebih tenang, lebih nyaman, atau terjadi konsistensi antara pengetahuan dengan sikap. Tetapi ketika dia tahu tentang bahayanya merokok, dan tetap saja merokok, pada dasarnya orang tersebut memelihara perasaan tidak nyaman karena pengetahuan yang dia miliki bertentangan dengan sikap yang dia lakukan, atau dalam istilah kampusnya terjadi inkonsistensi.
Jika
prinsip, nilai, kepercayaan, pengetahuan dan sikap adalah bagian dari apa yang
disebut sebagai aspek kognitif, maka istilah konsisten-inkonsisten tadi diganti dengan
terminologi baru, consonanće untuk konsistensi dan dissonance untuk inkonsistensi. Suatu
konsep yang dikembangkan Leon festinger ketika berusaha menjelaskan mengenai
peristiwa kekacauan sebuah daerah di Amerika serikat karena rumor gempa di
tahun 1934 yang silam, adalah Disonansi kognitif, teori yang sama sekali tidak
baru.
Kembali lagi, ada dua skenario yang dilakukan seseorang
untuk mengurangi ketidaknyamanan di atas. Yang pertama
adalah dengan merubah perilaku, dalam hal ini berhenti merokok dan yang kedua
adalah tetap melanjutkan merokok
walau dengan beban perasaan yang tidak nyaman tetapi dengan membawa
konsekuensi. Konsekuensi dari aktivitas ini diterangkan dalam prinsip yang
kedua, bahwa orang yang memiliki inkonsistensi antara pengetahuan dengan
sikap yang dia lakukan, secara aktif akan menghindar,
menjauhi informasi yang semakin menimbulkan ketidaknyamanan tersebut lebih
tinggi dan sekaligus mencari informasi baru untuk mendukung perbuatannya
sehingga menjadikan mereka lebih nyaman.
Para perokok yang terus saja merokok walaupun
mengetahui bahayanya merokok,
selain menghindari informasi
tentang bahaya merokok, mereka dengan secara aktif mencari informasi dan fakta
baru yang yang positif terhadap aktivitas merokok. Misalnya, data mengenai rata
rata kematian pada kecelakaan lebih tinggi dibandingkan dari rokok, atau
informasi yang lain yang mendukungnya. Prinsip ini pada dasarnya sebuah Langkah
untuk menyusun suatu realitas sosial baru yang sesuai dengan dirinya, mendukung
aktivitasnya dengan cara mencari pembenaran dan dukungan dari orang lain.
Pada
kasus penyebaran COVID-19, sebagian besar publik mengetahui informasi mengenai
bahaya COVID-19, tetapi karena
ketidakberdayaan sosial dan ekonomi dan alasan lainnya
memaksa mereka untuk terus beraktivitas. Untuk menurunkan
perasaan ketidaknyamanan yang terjadi mereka cenderung menghindar dan sekaligus mencari
informasi yang menurunkan kadar ketidaknyamanan tersebut.
Alhasil teori konspirasi, perselisihan Kampret-Cebong dan seterusnya tetap ramai di masa pandemi
ini. Di sisi lain Internet
dan berbagai media baru semakin memungkinkan publik untuk melakukan seleksi
dengan menolak informasi bahkan
tidak berkomunikasi dengan hal-hal
yang tidak menguntungkan dirinya. Tidak aneh kalau publik
cenderung terus membaca
konten yang arahnya
itu-itu saja atau didominasi konten dan
wacana dari kelompok tertentu saja.
Inkonsistensi ini mengapa terus
terjadi?
Ketika
berhadapan dengan informasi baru, fenomena baru dan fakta-fakta yang baru,
orang dikatakan paling tidak mendapatkan
keadaan inkonsistensi, walaupun
hanya sesaat. Misalnya
saja ketika orang telah lama
meyakini bahwa kendaraan berbahan bakar fosil adalah yang terbaik, tetapi
tiba-tiba mendapati informasi mengenai mobil Tesla dengan berbagai macam
kecanggihan melebihi mesin konvensional. Setelah sekian lama publik terbiasa dengan pengetahuan bahwa teknologi modern telah
lama
berhasil menaklukan penyakit infeksi, publik kini berhadapan dengan kenyataan
baru bahwa ada pandemi yang mengancam, dan tidak jauh berada di luar sana
tetapi ada di dekat kita. Publik tidak lagi hanya sebagai penonton bencana
melainkan korban dari bencana itu sendiri.
Dengan
berbagai wacana dan peristiwa baru yang muncul di masa yang akan datang memberi
tantangan-tantangan baru perihal berkomunikasi kepada publik. Tetapi mencoba
memahami dan berempati dan tidak reaktif terhadap
publik semacam ini menghindarkan kita dari judgement bahwa ada kelompok masyarakat yang cuek, pembangkang dan mementingkan
diri sendiri. Terakhir, prinsip berkomunikasi
dengan publik akan lebih efektif jika kita memahami bagaimana kondisi publik itu sendiri.
Oki
Edi Purwoko,
Dosen Komunikasi Penyiaran Islam, Fakultas Dakwah
UIN Prof. K. H. Saifuddin Zuhri Purwokerto

Post a Comment
Apa pendapat kamu mengenai artikel ini?