Purbalingga - Sejak pagi, suasana PBAK Fakultas Dakwah sudah ramai. Sekitar pukul 05.00, panitia mulai mengondisikan mahasiswa baru. Setelah gerbang dibuka, mahasiswa baru masuk dan sarapan bersama sebelum mengikuti rangkaian kegiatan.
Memasuki hari kedua, suasana PBAK dibuat berbeda. Pembukaan tidak dilakukan secara formal seperti hari pertama. Panitia memilih konsep yang lebih santai dengan menghadirkan drama musikal menggunakan bahasa Ngapak.
Penggunaan bahasa Ngapak bukan tanpa alasan. Menurut Zidna, Koordinator Divisi Acara PBAK Fakultas Dakwah, mahasiswa baru nantinya akan menjalani perkuliahan di lingkungan Purbalingga. Karena itu, mereka juga perlu mulai mengenal dan beradaptasi dengan bahasa daerah setempat. Konsep yang lebih santai ini menjadi salah satu perubahan PBAK Fakultas Dakwah tahun ini. Panitia mencoba membuat rangkaian kegiatan tidak sama seperti tahun sebelumnya. Zidna mengatakan, setiap tahun diharapkan ada konsep baru agar PBAK tidak terasa monoton.
Perubahan konsep sudah terlihat sejak hari pertama. Sebelum pembukaan, panitia mengadakan kirab tamu undangan. Dekan dan peserta yang akan mengikuti penyematan tanda peserta ikut dalam rangkaian tersebut. Kirab itu juga membawa konsep Nusantara. Tanah dari berbagai daerah dibawa dalam rangkaian kirab dan kemudian disatukan di depan panggung sebagai simbol Nusantara dan tanah air. Rangkaian tersebut juga diiringi puisi dan permainan kentongan yang dimainkan oleh panitia.
Konsep budaya juga digunakan saat penyematan tanda peserta. Jika biasanya menggunakan penari atau cucuk lampah, tahun ini panitia memilih budaya Betawi melalui palang pintu. Prosesi tersebut diisi dengan adu silat dan adu pantun.
Tidak hanya pembukaan yang dibuat berbeda. Panitia juga menyiapkan pentas seni untuk mahasiswa baru. Bagi panitia, kegiatan ini bukan hanya soal penampilan di atas panggung.
Mahasiswa baru harus berlatih bersama sebelum tampil. Dari proses latihan tersebut, mereka bisa lebih sering bertemu dan mulai mengenal satu sama lain. “Karena latihan itu mereka sering bertemu. Jadinya mereka akrab,” kata Zidna.
Selain pentas seni, mahasiswa baru juga diperkenalkan dengan lembaga kemahasiswaan melalui parade. Ketua HMPS, BPH, dan ketua komunitas diperkenalkan kepada peserta. Tujuannya agar mahasiswa baru tidak bingung ketika nantinya ingin mengenal atau datang ke lembaga kemahasiswaan yang ada di Fakultas Dakwah.
Setelah pematerian, kegiatan dilanjutkan dengan bazar lembaga kemahasiswaan. Hari kedua kemudian ditutup dengan pentas seni mahasiswa baru dan closing party.
Rangkaian kegiatan tersebut menunjukkan bahwa PBAK tahun ini tidak hanya diisi pematerian. Panitia mencoba memasukkan kegiatan yang lebih beragam agar mahasiswa baru tidak hanya duduk mendengarkan materi sepanjang acara.
Namun, perubahan konsep juga tidak lepas dari evaluasi. Salah satunya berkaitan dengan sarapan mahasiswa baru. Tahun ini peserta diberi kebebasan membawa sarapan, baik nasi maupun roti. Menurut Zidna, aturan tersebut perlu dievaluasi karena aktivitas mahasiswa baru cukup padat. Sebagian peserta yang hanya sarapan roti dinilai kurang mendapatkan asupan yang cukup untuk mengikuti kegiatan seharian.
Selain soal sarapan, panitia juga berusaha mengatur waktu dengan lebih baik. Pada hari kedua, rangkaian kegiatan bahkan bisa berjalan lebih cepat dari waktu yang sudah ditentukan. Zidna menyebut panitia tidak menyiapkan time error seperti biasanya.
Hal lain yang juga menjadi perhatian adalah kegiatan ibadah. Tahun ini mahasiswa baru bisa melaksanakan salat berjamaah di lapangan. Menurut Zidna, hal tersebut sebelumnya sudah diusahakan sejak tahun lalu, tetapi baru bisa terlaksana tahun ini.
Bagi Zidna, konsep PBAK tidak berhenti pada bagaimana acara berjalan sesuai susunan kegiatan. Setiap pelaksanaan juga menjadi bahan evaluasi untuk kegiatan berikutnya. Ia berharap konsep PBAK bisa terus berkembang dan tidak menggunakan pola yang sama setiap tahun. “Semoga tiap tahun ada inovasi baru lagi,” ujar Zidna.
Dari drama musikal berbahasa Ngapak sampai palang pintu, berbagai konsep yang muncul di PBAK tahun ini punya alasan masing-masing. Panitia tidak hanya ingin membuat acara lebih ramai, tetapi juga memberi ruang bagi mahasiswa baru untuk beradaptasi, mengenal teman, serta mengenal lingkungan kampus.
Pada akhirnya, PBAK bukan hanya tentang apa yang terlihat selama acara berlangsung. Ada proses dan pertimbangan di balik setiap konsep yang disiapkan panitia.
Penulis: Maia Nova Lestari
Post a Comment
Apa pendapat kamu mengenai artikel ini?