UKM SENRU Gelar Dialog dan Workshop Manajemen Pameran, Siapkan Langkah Awal Menuju Artfreedom


                                   Doc. UKM Seni Rupa                                     

PURWOKERTO — Unit Kegiatan Mahasiswa Seni Rupa (UKM SENRU) UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto menggelar kegiatan "Dialog + Workshop Manajemen Pameran" bertajuk "Ngantos Kepanggih Malih" pada Ahad, 18 Oktober 2026, di Padang Masyar, Gedung LK Lantai 2 UIN Saizu.

Mengusung tema yang dalam bahasa Banyumasan berarti "menanti untuk bertemu kembali", kegiatan ini menjadi ruang pertemuan antara anggota dan pengurus yang dipandu moderator Zahran Khairullah, dengan Rasman Maulana sebagai pemateri utama. Duduk melingkar beralaskan terpal putih, puluhan anggota berseragam hitam bersulam identitas "UKM SENRU: Melihat Kenyataan Lewat Karya" tampak khidmat mengikuti jalannya diskusi.

Bukan sekadar ajang silaturahmi, pertemuan ini sekaligus dimeriahkan workshop manajemen pamera, bekal strategis menyambut agenda besar UKM SENRU di penghujung tahun.

Pada kesempatan itu, Rasman Maulana menerangkan bahwa pameran seni rupa di lingkungan kampus bukan sekadar ajang unjuk karya, melainkan laboratorium sosial dan ruang dialektika kebudayaan yang menuntut tata kelola akuntabel, tidak hanya berorientasi pada capaian artistik semata.

Ia menerangkan struktur kepanitiaan ideal yang terbagi dalam lini kuratorial-artistik dan manajerial-operasional, mencakup tujuh fungsi kerja — mulai dari Kurator yang merumuskan tema dan menulis esai kuratorial, Ketua Panitia yang mengawasi anggaran dan perizinan, Tim Artistik & Display, Sekretariat, Humas & Publikasi, Logistik & Konservasi, hingga Fundraiser & Sponsor. Pembagian fungsi yang rinci ini, menurutnya, penting untuk mencegah tumpang tindih tanggung jawab sekaligus mengantisipasi risiko teknis seperti kerusakan karya.

Rasman Maulana juga menerangkan siklus operasional pameran yang idealnya berjalan dalam lima fase Inisiasi & Konsep, Kurasi & Pemasaran, Produksi Cetak & PR, Eksekusi & Display, hingga Pasca-Pameran dengan rentang persiapan 6 hingga 12 bulan untuk skala menengah-besar. Tak ketinggalan, ia memaparkan aspek teknis penanganan karya (artwork handling), mulai dari pentingnya Condition Report, standar pengemasan karya, hingga ketentuan pencahayaan seperti sudut spotlight 45 derajat dan batas intensitas cahaya 50 Lux untuk karya berbahan kertas agar warna tak mudah pudar.

Di bagian akhir, Rasman Maulana menerangkan strategi publikasi dan program publik yang dapat menghidupkan pameran seperti curatorial walkthrough, artist talk, dan lokakarya seni serta pentingnya evaluasi pasca-pameran melalui Laporan Pertanggungjawaban dan pengarsipan digital, agar rekam jejak dan wacana estetika yang dibangun dapat diwariskan kepada generasi kepengurusan berikutnya.

Suasana diskusi berlangsung cair namun serius. Materi dituliskan di papan tulis dan dibahas satu per satu, sementara para anggota aktif mencatat dan berdiskusi. Kegiatan ini menjadi penanda bahwa perjalanan menuju Artfreedom tidak dimulai dari eksekusi semata, melainkan dari fondasi pemahaman dan kebersamaan yang dibangun jauh hari sebelumnya.

Melalui dialog dan workshop ini, UKM SENRU berharap seluruh anggota memiliki kesamaan visi dalam menghadirkan karya yang visioner dan jujur.


Penulis: Hasbi Ash Shidiqiy Tazani

Editor: Eri S.

Post a Comment

Apa pendapat kamu mengenai artikel ini?

Previous Post Next Post