Doc. LPM SAKA
Ada satu pertanyaan sederhana yang layak diajukan setelah sebuah acara penyambutan mahasiswa baru selesai: apa yang tersisa setelah semua rangkaian acara berakhir?
Pertanyaan ini relevan untuk melihat Semarakom (Semarak Komunikasi) 2026, kegiatan penyambutan mahasiswa baru Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto yang dilaksanakan pada 12–13 September 2026. Kegiatan ini diawali dengan pembukaan di Auditorium UIN SAIZU dan pengenalan HMPS KPI, Forkomnas, serta berbagai lembaga dan komunitas di lingkungan Prodi KPI. Rangkaian kemudian berlanjut ke Watu Blencong Baturraden dengan games, api unggun, dan pentas seni.
Secara sederhana, semua itu memang merupakan bagian penting dari sebuah malam keakraban. Mahasiswa baru membutuhkan ruang untuk saling mengenal, mencairkan suasana, dan membangun rasa memiliki terhadap lingkungan barunya. Bahkan, di tengah kesibukan akademik, kegiatan semacam ini dapat menjadi pengalaman sosial pertama yang mempertemukan mahasiswa baru dalam suasana yang lebih cair.
Namun, di sinilah kita perlu berhenti sejenak.
Apakah keakraban adalah tujuan akhir?
Jika jawabannya iya, maka Semarakom cukup diukur dari seberapa meriah acaranya, seberapa banyak peserta yang hadir, seberapa seru games yang dimainkan, atau seberapa menarik dokumentasi yang dihasilkan. Acara berjalan lancar, peserta tertawa, api unggun menyala, pentas seni berlangsung, kemudian semuanya selesai.
Tetapi jika Semarakom ingin menjadi bagian dari proses pembentukan mahasiswa KPI, ukuran keberhasilannya seharusnya lebih jauh dari itu.
Sebab mahasiswa baru tidak hanya membutuhkan teman baru. Mereka juga membutuhkan orientasi tentang siapa diri mereka sebagai mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam, lingkungan seperti apa yang akan mereka masuki, dan kontribusi apa yang dapat mereka berikan selama menjadi mahasiswa.
Pengenalan organisasi, misalnya, tidak seharusnya berhenti pada penyebutan nama, struktur, atau daftar program kerja. Mahasiswa baru perlu diajak memahami mengapa organisasi tersebut hadir, persoalan apa yang ingin diselesaikan, serta ruang apa yang dapat mereka masuki untuk belajar dan berkontribusi.
Di sinilah substansi menjadi penting.
Keakraban seharusnya menjadi pintu masuk menuju keterlibatan, bukan menjadi titik akhir kegiatan.
Menariknya, Semarakom sebenarnya memiliki modal yang kuat untuk menuju ke arah tersebut. Ketika mahasiswa baru mengikuti games, bekerja sama, berbicara dengan teman yang baru dikenal, tampil dalam pentas seni, atau sekadar berdiskusi di tengah suasana malam, mereka sebenarnya sedang mempraktikkan komunikasi secara langsung.
Komunikasi tidak lagi sekadar menjadi materi tentang teori komunikasi, komunikasi interpersonal, atau public speaking yang nantinya dipelajari di ruang kelas. Mereka sedang mengalami sendiri bagaimana membangun relasi, menyampaikan gagasan, bekerja dalam kelompok, memahami orang lain, bahkan mengelola perbedaan.
Dengan kata lain, Semarakom memiliki kesempatan untuk menjadikan komunikasi sebagai pengalaman, bukan sekadar pengetahuan.
Namun pengalaman tersebut perlu diarahkan agar tidak berhenti sebagai kenangan.
Dua hari berkegiatan tentu tidak cukup untuk membentuk keterlibatan mahasiswa selama bertahun-tahun. Setelah mahasiswa baru pulang dari lokasi kegiatan, kehidupan perkuliahan akan dimulai. Mereka akan kembali berhadapan dengan tugas, kelas, organisasi, persoalan akademik, dan berbagai pilihan tentang bagaimana mereka ingin menjalani kehidupan sebagai mahasiswa.
Maka pertanyaan berikutnya adalah: apa yang terjadi setelah Semarakom?
Apakah mahasiswa baru hanya pulang membawa foto dan cerita tentang keseruan acara? Atau mereka pulang dengan pemahaman baru tentang dunia KPI, mengenal ruang-ruang pengembangan diri, memiliki keberanian untuk berkomunikasi, dan tahu ke mana harus pergi ketika ingin belajar atau berkontribusi?
Jika yang kedua dapat tercapai, maka Semarakom tidak lagi sekadar menjadi agenda tahunan.
Keberlanjutan bisa dimulai dari hal-hal sederhana. Setelah kegiatan, misalnya, dapat dibuat forum diskusi mahasiswa baru, ruang aspirasi, pendampingan organisasi, atau kegiatan lanjutan yang mempertemukan mereka dengan mahasiswa senior. Dengan begitu, hubungan yang dibangun selama kegiatan tidak terputus begitu saja ketika acara selesai. Gagasan mengenai keberlanjutan semacam ini juga menjadi salah satu catatan penting dalam melihat Semarakom 2026.
Pada akhirnya, kritik terhadap sebuah kegiatan bukan berarti menolak kegiatan tersebut. Justru sebaliknya, kritik dapat menjadi cara untuk membuat sebuah tradisi menjadi lebih berarti.
Semarakom sudah berhasil membuka sebuah perjumpaan. Mahasiswa baru bertemu dengan teman, senior, organisasi, dan lingkungan akademiknya. Tetapi perjumpaan hanyalah langkah pertama.
Tantangan sesungguhnya adalah bagaimana perjumpaan tersebut berubah menjadi komunikasi yang berkelanjutan, partisipasi yang nyata, dan keberanian untuk mengambil peran.
Sebab pada akhirnya, acara mahasiswa tidak seharusnya hanya meninggalkan kenangan tentang bagaimana meriahnya sebuah kegiatan.
Ia juga harus meninggalkan pertanyaan:
“Setelah acara ini selesai, saya ingin menjadi mahasiswa seperti apa?”
Penulis: Rizki

Post a Comment
Apa pendapat kamu mengenai artikel ini?