Kedok Paradoks Kodok


Ilustrasi: pinterest.com


Saya adalah manusia paling sarkastis yang berani menghadang para petinggi tahta atas mahasiswa, apalagi terkait bahasan sosial kampus yang membelakangi mahasiswa demi kebersihan nama baik yang berlumut. Apakah anda bersama saya untuk membersihkan hati mereka yang sudah lama berkarat?


Berlarut 2 tahun lamanya kampus saya tidak aktif dalam aksi yang mengatas namakan mahasiswa. Cukup aneh bukan? Ada kampus yang tidak ikut andil dalam aksi mahasiswa. Ya.. itulah kampus saya.


Akan tetapi tahun 2022 ini berbeda, kampus saya ikut andil dalam parade orasi mahasiswa yang menuntut minyak turun, menolak BBM naik, menghadang presiden berlayang dalam kursi raja untuk ketiga kalinya dan mengecam tindakan yang merugikan masyarakat. Cukup keren bukan? Kampus saya terlibat dalam perjuangan nasional ini.


Perjuangan Setelah Ngasih Makan Kodok


Saya bangga, jas almamater kampus saya dapat berdampingan dengan jas almamater kampus lain. Apalagi dewasa ini, kampus saya telah merilis warna baru untuk almamater mahasiswanya. Yaa warna segar hijau rumput. 


Saya tidak di dalam barisan mereka, saya hanya menonton jalannya demo saja, biar bisa menilai aksi mereka secara keseluruhan. 


Akan tetapi di dalam barisan yang terlihat kokoh, saya pandang lemah otaknya. Saya tanya terkait isu yang diangkat, mahasiswa yang tergabung gugup gagap tak bisa berucap. Loh mahasiswa opo toh iki? Kok koyo ngene tampilane.


Hemat pikir saya, mereka mahasiswa baru yang ingin eksis di sosial media dengan berfoto ria memegang spanduk yang entah mereka faham atau tidak dengan substansi tulisan spanduk itu. ah bodo amatlah, saya tidak sudi berurusan dengan otak kodok mereka. 


Baiklah eksplorasi saya fokus terhadap tokoh yang mengumpulkan ratusan mahasiswa. Loh tambah ngaco lagi, kok badan eksekutif mahasiswa kampus saya mengumpulkan mahasiswa tanpa sepengetahuan birokrat kampus, padahal almamater mereka milik kampus. 


Setidaknya laporan saja sudah cukup, kok pimpinan kodoknya malah tidak aktif saat dihubungi birokrat kampus. Saya dapat informasi itu dari birokrat yang katanya melayani dan membimbing masalah mahasiswanya. Saya khawatir di akhir kisah demo ini nama kampus menjadi kotor dan mahasiswanya tidak mampu tanggung jawab. 


Baiklah saya kembali ke perjuangan mahasiswa, teriakan mereka bergemuruh terdengar sampai menggetarkan tiang-tiang penopang kantor DPR, kalian bisa bayangkan teriakan mereka sangat keras karena pakai pengeras suara tentunya, jangan pikir mereka teriak dengan suara telanjang saja.


Menarik lagi ada tulisan yang menyentil etika, mereka menuntut kebijakan pemerintah dengan analogi yang cukup pornografi. Film biru berada dalam otak mereka, sehingga tangan mereka bergerak menelusuri selangkangan. Analogi yang buruk jika selangkangan masuk dalam spanduk tuntutan mereka. Rasa hati saya sangat miris kali ini.


Ah sudahlah, pejabat negara yang dituntut pun akhirnya turun menemui massa aksi dan menyetujui semua tuntutan mahasiswa. Setelahnya mahasiswa kembali ke jalur kampus masing-masing dengan menggenggam komitmen pejabat rakyat tadi.


Sensasional Seantero Pulau Kodok


Demo tuntas, masalah baru muncul menerpa kampus saya. Ternyata mahasiswa yang tadi saya tanyai yang membawa spanduk bernada porno itu menjadi eksis di media sosial se-Indonesia. Viral dengan hal-hal yang fulgar, malu saya ketika mendengar berita itu.


Kalau seperti ini nama kampus saya jadi kotor beneran, kan? Aduh pihak kampus tidak intervensi dari awal, bagaimana nasib kampus saya kalau kaya gini? Saya yakin birokrat kampus tidak akan tinggal diam terhadap hal ini. Pasti akan ada upaya untuk menyapu dan mengepel noda yang sudah terlanjur melekat pada citra kampus saya. Toh itu memang tugas mereka.


Lalu, mereka yang menjadi pelopor aksi turun terjal ke jalan dan juga sebagai pelaku organisator dalam mengorganisir barisan kodok hijau bagaimana? Tentunya mereka yang wajib tanggung jawab untuk masalah ini. Jangan sampai mereka  cuci tangan setelah menjadikan kodok hijau kecebur kolam lumpur.


Baiklah saya akan berpikir baik, semoga kemudian hari pimpinan kodok hijau mau mengusut tuntas kasus ini. Setidaknya dengan mengakui kesalahannya dan kekeliruan mereka dalam membentuk pasukan kodok yang membuat spanduk pornografi kodok.



Menyiram Kandang Kodok dengan Undang-Undang


Bukannya melakukan usut isu buruk yang fenomenal, malah mengecam dan mengancam orang dengan regulasi. Birokrat kampus saya malah asik melakukan pertemuan dengan raja kodok dengan sembunyi di balik kokohnya Gedung Rektorat. Sungguh kecewa kalau begini.


Saat matahari benderang aktivitas kodok bukanya berendam di air ya? Kok malah merapat untuk membuat alat pemebersih yang tidak ramah lingkungan. Ohh tidak, mereka sedikit kesasar. 


Mereka mengeluarkan pernyataan bahwa isu fenomenal soal spanduk pornografi itu karena oknum yang tidak bertanggung jawab, tidak jelas pula keterangan oknum yang dimaksud itu. Aahh darimana mereka tahu atas oknum itu, padahal oknumnya saja belum ditemukan.


Paling menggelitik adalah ancaman mereka untuk para individu atau Lembaga yang menyebarkan foto sekelompok mahasiswa kampus saya yang pegang spanduk pornografi itu dengan regulasi perihal Informasi dan Transaksi Elektronik, atau lebih familiar dengan UU ITE. 


Foto yang tersebar dalam dunia maya sudah terlanjur eksis di alat pencari google, bagaimana mereka akan mengancam terkait informasi yang sudah menjadi konsumsi publik seantero pulau kodok.


Ahh sudahlah. Pertanyaan yang belum saya temukan jawabannya itu biarlah menjadi pertanyaan. Lagi pula sifat alami kodok itu kan senang melompat untuk menghidari masalah yang menghadang di depannya. 


Kalau saya lanjutkan cerita kodok ini, lama-lama saya akan menjadi kodok ahahaha. Suara kodok sudah terdengar, itu tandanya saya harus tidur dengan nyenyak.


Penulis: Pandika Adi Putra

Post a Comment

Apa pendapat kamu mengenai artikel ini?

Previous Post Next Post